KELUARGA BUKAN SEKEDAR ANGKA
Agustus merupakan salah satu bulan yang panjang bagiku, meski secara hari tetaplah sama seperti Agustus di tahun-tahun sebelumnya. Bulan itu menjadi cukup panjang karena saya memikirkan banyak hal sebagai seorang pengantin baru. Berpikir dan memutuskan sesuatu yang pasti semua suami sudah memikirkan hal ini.
Satu minggu setelah pernikahan, saya meninggalkan istri untuk kembali mencari penghasilan di Sumba. Sebuah pulau yang jauh dari Jawa dan dengan tiket yang mahal tentunya. Namun, dibalik mahalnya tiket, pemandangan alam dan kekayaan alam di pulau itu begitu indah. Namun, ada istri yang memelukku di bangku ruang tunggu bandara. Dia juga melambaikan tangan serta membawakan bekal sarapan ala dia agar aku tak lapar.
sesampainya di Sumba, setelah beberapa hari kemudian bulan Agustus tiba. Saat itu aku menerima masukkan dan cerita dari para senior tentang pernikahan. Berpikir kembali ke Jawa dan bertemu istri atau meneruskan mencari uang di tempat yang jauh dari istri. Ini semua tak mudah bagiku, karena masih baru saja menjadi suami. Aku mulai menggali pengalaman dari orang yang sudah mengalami posisi sepertiku.
Banyak yang memberikan cerita dan sudut pandang mereka tanpa memaksaku memilih tapi membuatku berpikir. Suatu ketika saat aku pulang kerja, seperti biasanya aku memilih duduk di bak belakang mobil 4x4 yang mengantar ke Kos. Saat jalan menuju kos, seorang teman tiba-tiba bertanya tentang kontrak kerja dan keluarga baruku.
Saat itu dia tiba-tiba dia berkata”kamu masih muda, lebih baik kamu kembali ke Jawa dan bertemu dengan istrimu. Kamu bisa mencari kerja disana dan gaji kecil pun tak masalah, terpenting kamu bisa bersama istrimu. Kamu pengantin baru, saat kamu kembali kembali nanti rejeki pasti akan datang. Hidup gak selamanya soal angka, karena keluarga jauh lebih berarti dari angka dan kelak kamu akan mendapatkan yang jauh lebih baik.” tutup dia dan sampailah di kos.
Selaras dengan dua teman lain, perkataan itu seolah membekas di lubuk hatiku. Aku mencoba mencari inti dari masukkan dari beberapa teman yang berkata hampir sama. “Keluarga bukan sekedar angka”. saat ini sebagai pengantin baru, aku harus berpikir dekat dengan istri. Angka bisa ku cari, namun jika keluarga atau istriku ada masalah, moment itu adalah kerugian karena tak disamping dia.
Akhirnya aku kembali ke Jawa dan bertemu istri tercinta, di Jakarta. Bersama dia ternyata dapat membuat masalah yang ada menjadi bahan diskusi dan amarah menjadi sebuah pelukan serta ciuman. ini lah ceritaku, ini hanya sebuah sudut pandang yang boleh orang lain berbeda. Setiap orang pasti memiliki cerita yang sama dan beda menyikapinya.
Terima kasih istriku
Terima kasih untuk semuanya.
Komentar
Posting Komentar