DIANTARA KATA ORANG dan EGO KU
Dahulu ada nasihat dari orang tua atau kata-kata bijak diinternet yang berbunyi kurang lebih seperti ini "Apa yang dikatakan orang lain tentang dirimu, BELUM TENTU itu benar". Kata "belum tentu" sengaja saya besarkan ukurannya, kata itu bisa diartikan kadang bisa benar, bisa juga salah. Sering kali kita mengartikan pasti gak bener tetapi menafikkan pasto bener. Karena kita gak mau nrima pendapat orang lain sebagai saran yang perlu dipertimbangkan tetapi saran yang patut diabaikan.
Selama ini kita lebih percaya pada ego kita daripada mencoba memberi ruang saran dari orang lain, baik yang kita kenal dekat maupun yang baru kiita kenal. Alhasil ego selalu menutup masukkan dari saran dari luar, terutama dari orang yang tidak kita kenal. Ada cerita nyata yang saya alami sendiri, ini antara kata orang dan ego saya. Kata orang di luar sana, yang kenal saya dan yang waktu itu melihat kerjaan saya melayani pelanggan, saya ini bakatnya jualan atau wirausaha atau sejenisnya. Ego saya nolak, karena saya bisa kok bekerja seperti teman-teman saya yang di Jakarta, bekerja kantoran dan bergaji minimal 5 juta.
Setelah lulus kuliah, ego itu makin besar. Apalagi saat saya kerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan gaji 5 juta juga. Saya tak lagi meyakini pandangan orang lain tentang masa depan atau hal yang pas buat saya kalau bertentangan dengan ego. Saya hanya menerima saran yang sesuai dengan ego, itu berlangsung hingga saya mengganggur lebih dari 8 bulan dan berharap bisa kerja dibidang yang sama. Lamaran kerja saya ditolak dan tak dapat respon berkali-kali. Sepanjang saya menganggur dan menunggu perpanjangan kontrak yang akhirnya tak pernah datang, banyak saran untuk berjualan lagi dan itu saya tolak karena bertentangan dengan ego.
Setelah 8 bulan itu saya mulai mempertimbangkan saran itu dengan melihat kondisi saya yang sama sekali tak punya uang. Selalu minta ke orang tua, padahal orang tua saya juga kekurangan. Saya memulai merintis usaha lagi, menerima saran dari orang lain yang dulu tidak saya anggap. Kejadian yang menimpa saya mungkin juga terjadi pada orang lain. Kata orang yang bisa bener dan bisa tidak pas buat saya atau kita.
Ok teman-teman, ini dulu tulisan saya. Semoga bisa menyempatkan nulis lagi dan lebih sering lagi.
KAI MENOREH Semarang-Jakarta
12:47
Agus Arie Suwandi (AAS)
Selama ini kita lebih percaya pada ego kita daripada mencoba memberi ruang saran dari orang lain, baik yang kita kenal dekat maupun yang baru kiita kenal. Alhasil ego selalu menutup masukkan dari saran dari luar, terutama dari orang yang tidak kita kenal. Ada cerita nyata yang saya alami sendiri, ini antara kata orang dan ego saya. Kata orang di luar sana, yang kenal saya dan yang waktu itu melihat kerjaan saya melayani pelanggan, saya ini bakatnya jualan atau wirausaha atau sejenisnya. Ego saya nolak, karena saya bisa kok bekerja seperti teman-teman saya yang di Jakarta, bekerja kantoran dan bergaji minimal 5 juta.
Setelah lulus kuliah, ego itu makin besar. Apalagi saat saya kerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan gaji 5 juta juga. Saya tak lagi meyakini pandangan orang lain tentang masa depan atau hal yang pas buat saya kalau bertentangan dengan ego. Saya hanya menerima saran yang sesuai dengan ego, itu berlangsung hingga saya mengganggur lebih dari 8 bulan dan berharap bisa kerja dibidang yang sama. Lamaran kerja saya ditolak dan tak dapat respon berkali-kali. Sepanjang saya menganggur dan menunggu perpanjangan kontrak yang akhirnya tak pernah datang, banyak saran untuk berjualan lagi dan itu saya tolak karena bertentangan dengan ego.
Setelah 8 bulan itu saya mulai mempertimbangkan saran itu dengan melihat kondisi saya yang sama sekali tak punya uang. Selalu minta ke orang tua, padahal orang tua saya juga kekurangan. Saya memulai merintis usaha lagi, menerima saran dari orang lain yang dulu tidak saya anggap. Kejadian yang menimpa saya mungkin juga terjadi pada orang lain. Kata orang yang bisa bener dan bisa tidak pas buat saya atau kita.
Ok teman-teman, ini dulu tulisan saya. Semoga bisa menyempatkan nulis lagi dan lebih sering lagi.
KAI MENOREH Semarang-Jakarta
12:47
Agus Arie Suwandi (AAS)
Komentar
Posting Komentar