Aku dan Malam ini


Aku tak tau mau ngapain, sudah lama tak nulis. Hasyrat untuk nulis tinggi banget, tapi pas didepan laptop, dua....r ilang semua ide saya. Saya barang kali gila,  hal yang kece gak pernah disukai. Contoh, taukan  beasiswa LPDP yang cukup terkenal? Yang beginian saja saya gak mau daftar, apa alasan saya coba? Sedikit diplomatis ala-ala orang-orang penting saya menjawab, “ saya gak tertarik LPDP karena saya takut gak amanah, saya juga gak mau balik ke Indonesia setelah dapat beasiswa di luar negeri.” Belum tentu ketrima saja sudah songong kayak gini, itu contoh salah satu keanehan saya. Mau tau aneh yang lain? Silahkan pm saya ya, pm dimana anda baca blog ini (sok bakal ada yang mau nanya).  Malam ini saya gak tau mau nulis apa, jadi kalau tulisan ini gak fokus dan bahasanya berantakan, ya begini bahasa terbaik saya, jadi kasih masukan di blog alay saya ini atau dimana saja dah, yang penting anda senang dan saya pasti lebih senang.
Judulnya aku dan malam ini, maksud judul itu adalah saya gak tau mau ngapain, yang jelas pengen gerak. Malam ini di otakku atau otak saya memang lagi banyak yang masuk keluar, bak sinyal provider yang saya pakai (mau nyebutin nama takut gak dikasih duit,jadi agak usah ya). Ngomongin soal negeri ini juga susah, pusing dan saya bingung mau kasih solusi apa. Kalau Cuma jadi komentator, ya itu mah udah banyak. Jadi gak ingin rebut lahan makan orang, takut dosa saya. Saya abaikan para komentator negeri ini, karena mereka gitu juga buat cari makan anak istri mereka. Komentator salahkah? Sejak jaman siapa entah, komentator itu seringnya yang gak pernah paham kondisi dan kadang atau sering yang dijadiin komentator itu bukan orang yang pernah mengalami masalah tersebut. Saya gak menghina komentator apapun ya, coba kalian pikir deh, kalau kita nih diminta teman kita jadi tong sampah masalah mereka. Maka kita berlagak sok ngerti masalah mereka dan langsung kasih saran (ini pengalaman pribadi) dan kita pasti kasih sarannya agak maksa.
Ini lah kita, berlagak pasrah dulu. Saya dan anda semua gak tau apa sebenarnya masalah teman kita, tapi tetap saja maksa. Makan saja kalau dipaksa saja gak mau, masak mau maksain hidup orang. Itu yang terjadi pada negeri ini juga, saya gak tau kenapa jalan cerita dari Tuhan untuk negara ini seperti sekarang. Saya gak bisa maki-maki Tuhan, takut kena adzab. Saya sedih juga melihat beasiswa yang terkenal dinegeri ini, penerimanya gak boleh share  tentang beberapa hal tentang beasiswa itu. Alasannya pun saya gak tau, padahal banyak orang sekarang yang jauh dari akses butuh bimbingan soal itu. Saya sadar, dulu alumni beasiswa pun butuh proses yang panjang dan banyak lika-liku. Malam ini akhirnya saya bisa nulis, ini mungkin tulisan amburadul tapi semoga ada sedikit manfaat bagi yang membaca. Mari jadi pengkritik yang bijak, maksudnya apa? Anda pasti sudah tau semua, jadi silahkan artikan sesuai yang anda inginkan, gak ada larangan.
Udah ya edisi ngalanturnya, tapi sebelum saya tutup saya ada puisi buat kita semua.

NEGERI INI PUNYA SIAPA?
Orang berkata kita ini negeri yang bijak dan penuh toleransi,
Tapi kita penuhi jalan cerita negeri ini dengan diksi dan fiksi.
Orang berkata kita ini manusia yang sopan,
Tapi bukannya sebaliknya?
Saat kita orasi, bukan kata bijak yang kita lontarkan.
Namun, kita saling mencaci negeri sendiri.
Kita mungkin bertanya, milik siapa negeri ini?
Pasti jawabannya milik kita semua,
Terus, semua itu siapa?
Kenapa negeri harus diadu domba dengan dombanya sendiri?
Gak sedihkan kita, jika melihat negeri ini hancur?
Kata kita agama kita, manusia makhluk yang sempurna.
Saking sempurnya kita gak pernah mau koreksi diri sendiri.
Negeri ini milik siapa?
Kenapa ada caci maki disetiap kita aksi?
Apa negeri ini gak bisa damai lagi?

Agus Arie Suwandi
8 Februari 2017
22;48


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekuntum mawar

SURGA UNTUK PARA PEMBENCI