PANGGUNG PINGGIR JALANAN

Sudah hampir sebulan aku berjualan jagung serut di depan SD Sambiroto 01, untungya alkhamdulillah lumayan. Di tempat itu aku kembali lagi jualan, setelah lama tak jualan disana. Dulu sempat jualan Mie Lidi, kalian pasti tak asing karena ini jajanan masa kecil kita semua. Seperti biasa ketika sepi, saya mendatangi sekumpulan pedagang yang sedang duduk ngobrol. Hal ini dilakukan setiap hari, sekedar untuk mengisi waktu kosong sebelum  pembeli datang lagi. Ini juga mereka gunakan untuk mempererat tali persaudaraan antar pedagang yang ada.
Sesekali kami bicara soal jualan kami, kadang juga bicara soal isu terkini. Itu yang membuatku kaget, mereka bicara bisa juga soal politik meski itu hanya dari perspektif orang  awam. Beberapa hari lalu ketika isu penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok mencuat dan demo besar dilakukan, mereka ternyata juga membahas hal ini. Walau seorang pedagang di pinggir jalan, tapi mereka tetap antusias menanggapi peristiwa tersebut.
Pandangan mereka (para pedagang) soal demo dan isu penistaan agama sebenarnya sama, namun aku gak akan menshare disini.mereka berargumen dengan apa yang mereka yakini, penjelasan mereka bak mahasiswa atau seorang pakar. Inilah gambaran kecil seorang pedagang yang saat bertemu dengan pembeli mereka tak terlihat memikirkan bangsa ini namun sebaliknya. Pakaian lusuh, wajah hitam pekat dan tubuh dialiri keringat karena cuaca yang panas. Semua itu tak bisa menjadi tolak ukur tentang kepintaran atau kebodohan seseorang, karena dibalik profesi mereka, tersimpat keinginan Indonesia damai. Indonesia bebas dari korupsi, Indonesia bisa maju dalam segala hal.
Harapan kecil ini selalu mereka dendangkan ketika pembeli sedang tidak ada, diskusi bukan lagi milik Mahasiswa dan orang-orang berpendidikan tinggi. Tapi kami pedagang juga bisa diskusi, saling mrenghargai tanpa harus ada yang dilempar ketika beda pendapat. Menghargai adalah moto para pedagang jalanan, mereka sadar kalau hidup ini susah jadi buat apa kami harus bertengkar, lebih baik bertukar jualan atau bertukar uang receh untuk kembalian.
Itu sedikit cerita saya yang beberapa minggu ini berjualan, salam perdamaian.
Semarang, 11 Des. 16
Agus Arie Suwandi

Anggota Kel. Besar GMB

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekuntum mawar

SURGA UNTUK PARA PEMBENCI