AKHIR DARI SEBUAH SKENARIO

Pagi itu adalah hari yang bikin hati ini layu,melihat seluruh tubuh nenekku penuh dengan selang yang berisi obat. Tak seperti biasanya yang selalu ramai, dia tak berkata apapun saat kami pegang tubuhnya. Aku seolah melihat sosok yang sudah tak berdaya  dan hanya bisa bernafas. Setiap kali alat pemompa jantung dan oksigen itu bekerja, hati ini selalu bergetar.
Tak tahan melihatnya tak berdaya dan bernafas hanya dengan bantuan alat, tak bisa bergerak dan hanya denguran nafasnya saja yg terdengar tanpa suara apapun dari dia. Tak semua orang menginginkannya, karena ini bukan pilihan. Ini sebuah tontonan takdir yang harus kami sekeluarga saksikan, kami hanya bisa menontonnya dan hanya bisa menyerahkan akhir episode ini oleh sang sutradara. Tentu sebagai penonton yang baik, kami berharap ada happy ending, namun lagi-lagi sutradara dunia menentukan.
Setiap episodenya selalu kami berharap, tak ada luka dan kesedihan dalam cerita itu. setiap dokter yang datang pada kami, nasihat untuk kuat dan berdoa yang terbaik. Dokter dan suster bilang, bahwa kami hanya bisa membantu sebisa kami, tapi ini semua tak menjamin kesembuhan hanya Tuhan yang bisa beri keajaiban.
Tulisan ini sempat benrhenti sehari, karena kemarin saat aku nulis ini berselang 15 menit, nenekku meninggalkan dunia ini. sutradara paling keren di dunia ini segera mengakhirkan cerita ini. terima kasih Allah, karena kau beri yang terbaik. Aku tetap sedih namun ini jawaban atas doa kami sekeluarga, meminta di berikan yang terbaik untuk nenekku yang sakit kritis. Kami memang berduka namun waktu duka harus segera kembali menyusun lembaran baru lagi.
Selamat jalan nenekku


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekuntum mawar

SURGA UNTUK PARA PEMBENCI