Faseku
Namaku Agus Arie Suwandi, usia 29 tahun lebih beberapa bulan, saat
aku Taman kanak-kanak tetangga dan ibu bilang aku terlambat masuk, karena
harusnya aku sudah SD. Saat mulai SD aku merasa senang karena meninggalkan baju
kecil dan taman bermain yang gak begitu besar.
Tiba di SD kelas 1 saat mau kenaikan kelas ternyata aku tidak ikut naik,
entah kenapa itu terjadi saya gak tau dan itu menjadi rahasia hingga
sekarang. Habis itu, Allah SWT selaku
Tuhanku mengambil ayahku dari aku dan keluarga. Itu titik sedih pertama melebih
tidak naik kelas, karena ayahku sangat sayang padaku. Saat dia meninggal aku
merasa terjatuh dan sangat terpuruk bak lirik lagu iwan fals yang sedikit di
ubah “anak sekecll itu ditinggal meninggal ayahnya....”. lirik itu sedikit saya
ubah biar lebih keras pasnya,kalau gak pas ya maaf. Setelah ayah meninggal
dunia, aku mulai berubah menjadi anak yang keluar bandelnya, aku pernah mencuri
uang ibuku, uang peminjaman buku di tetanggaku dan uang receh di atas kulkas
temanku, uang tersebut kugunakan untuk main PS(playstasion).
Setelah ketahuan mencuri,
saat itu yang ada dalam benakku adalah lari ke atas bukit dan sampai disana aku
memaki Tuhan karena aku tak punya cukup uang.
aku mulai kena marah dan aku sadar akan kondisi keluargaku. Aku harus
menerima ini semua tanpa syarat apapun pada Tuhan, aku kembali seperti dulu
jadi anak yang selalu menerima apa yang dikasih dan tidak banyak menuntut. Beranjak SMP, aku mulai mengurus semuanya sendiri. Mulai mendaftar
dan bayar administrasi hingga bayar
seragam, aku hanya bilang kepada ibu
soal biaya yang dibutuhkan. Saat uang sudah ada tinggal aku bayarkan. Saat itu
terbersit perasaan iri melihat kawan-kawan yang diantar orang tuanya dan aku
selalu sendiri, namun aku sadar bahwa ibuku harus bekerja untuk membiayai hidup
anaknya termasuk membayar sekolah juga.
Aku gak akan cerita lagi soal ibu karena ada bakal nangis dan sudah
kusiapkan slot itu. kondisi seperti itu
berblanjutk saat SMA, mendaftar sendiri hingga minta keringanan uang Gedung
atau uang masuk sekolahpun sendiri. Suatu ketika ada undangan orang tua murid
untuk membicarakan uang gedung, semua datang bersama orang tua masing-masing
dan aku sendiri. Aku ditanya “orang tuamu dimana? kerja pak, saya menjawabnya”.
Pak guru itu tanya lagi, “kan ini gak tiap hari dan demi anaknya. Apa gak bisa
libur kerja? Kalau libur kami gak bisa makan pak, jadi saya datang sendiri dan saya sudah juga sudah bilang sama ibu.”
Jawabku polos.
Masa SMA adalah masa terindah, bagiku pepatah atau kalimat bijak
itu tidak berlaku padaku, karena semua masa belajarku selalu indah. Indah tak
identik dengan selalu bahagia dan diliputi cerita-cerita kenalakan saat
sekolah. Di waktu SMA ini aku pernah mengalami tidak lulus ujian nasional yang
berdampak gak lulus sekolah, saat itu yang aku lakukan hanya menutup diri di
kamar selama kurang lebih 1 jam dan langsung memutuskan untuk bangkit. Aku
mulai mengurus kejar paket C yang gratis, berdasar info dari sekolah dan sudah tak punya uang lagi untuk
biaya sekolah. Ketika ujian paket C kelar dan aku melihat pengumuman ternyata
aku gak lulus. Bukan Cuma aku ternyata semua temanku gak lulus, kebingungan
melandaku lagi dan kakakku datang sembari memberi solusi. “Pilih paket C yang
berbayar atau pilih mengulang satu tahun, kamu harus memutuskan ini segera
mungkin. Kamu sudah tidak punya waktu lagi, segera putuskan.’ Kata kakakku. Aku
pilih mengulang satu tahun demi ijazah SMA dari sekolahanku bukan karena ijazah
paket C.
Tantangan pasti ada, ternasuk menghadapi rasa malu, semua rasa itu
bisa kuhadapi, namun air mata sempat tumpah saat saya gak bisa minta uang SPP
itu kembali. Ceritanya begini, aku mendapat kabar kalau yang mengulang mendapat
keringanan biaya bulanan (SPP). Berita ini tak sampai padaku, mungkin karena
aku satu-satunya yang belajar satu kelas dengan adek kelasku yang lain memang
diberikan kelas sendiri karena jumlah mereka yang lumayan banyak. Aku berusaha
mendatangi kantor Tata Usaha agar mendapatkan separoh uang bulanan yang sudah
aku bayarkan. Mereka bilang tidak bisa,
aku mencoba ke guru yang mengurusi siswa tetap gak bisa hingga aku bilang ke
kepala sekolah tetap tidak bisa. Air mataku tiba-tiba keluar deras,aku
menyalahkan diri sendiri karena kejadian itu semua. Bangkit dari kejadian itu
semua aku langsung belajar keras dan setiap waktu, aku sadar bahwa ada
pelajaran di setiap masalah ini, aku harus tetap semangat menjalani setiap
proses yang ada. Jatuh bangun harus di jalani dan itu adalah proses yang biasa.
Bahkan saat aku kuliah, fase jatuh bangun tetap harus aku jalani.
Ketika di
semester pertama yang harus naik bus DAMRI yang haltenya jauh dari rumah, harus
melewati bbrp kampung dan jembatan, begitu juga pulang. Uang saku hanya bisa
untuk membayar angkot, kalau pas kegiatan hingga sore dan tau bakal kehabisan
bus, harus cari tebengan karena angkot arah ke rumah dari kampus sudah tidak
ada. Kadang juga harus jalan kaki dulu hingga jalan utama dan harus naik angkot
beberapa kali. beranjak semester 3, kakakku harus mengorbankan motornya demi
aku. Aku dipinjami dia motor hingga akhir sekarang, sedangkan dia harus memutar
otak agar dia juga bisa beli motor satu lagi untuk dia kerja. Sekarang motor
itu sudah kubeli walau sering ketika rusak, kakakku yang harus memperbaiki
dengan uangnya sendiri.
Sering ada penyesalan ketika aku gak kelar-kelar
kuliah, mungkin Allah sedang mengujiku. Depresi sempat aku alami ketika aku gak
bisa mengikuti ujian Proposal skripsi dikarenakan kurang 2 SKS. Berita ini
bikin lemas dan menangis. Itu seperti masa SMAku lalu, alasanku menangis karena
orang tua sudah gak ada biaya, aku harus mencari solusi. Sambil aku harus tetap
profesional menjalankan amanahku menjadi panitia di YA YLF GMB 2016. Aku harus
bersyukur bisa kuliah di UIN Walisongo Semarang yang uang semesternya tergolong
murah, yang murah saja aku kesulitan bayar, apalagi yang mahal. Kadang aku gak
tau kenapa ada masalah seperti ini, aku beryukur tetap diberi kekuatan oleh
Allah SWT. Banyak mahasiswa semester akhir yang bunuh diri karena tekanan yang
besar, namun aku tidak sampai seprti itu dan gak akan melakukan hal itu. aku
bersyukur akan segala hal yang Allah kasih padaku, termasuk laptnsop, hp
samsung yang gratis, motor jadul yang keren.
Tas ransel yang diberi temanku,
walau sekarang sudah rusak tetap aku pakai serta semuanya. Aku memang belum
cukup punya uang untuk membeli barang-barang seperti itu tapi tetap aku
nikmatin, aku gak pernah iri karena aku berusaha untuk sadar diri. Sadar kalau
aku berasal dari keluarga yang cukup, sadar kalau aku ini bukan berasal dari
anak pejabat. Bagiku tak ada kata terlambat, yang ada hanya mau bekerja lebih
keras atau tidak. Aku selalu bahagia berada bersama keluarga dirumah, dengan
mereka aku selalu bisa bahagia. Karena mereka alasan utamaku punya mimpi besar
dan tak pernah takut untuk menghadapi rintangan sebesar apapun. Bersyukur juga
aku berada ditengah-tengah orang hebat, aku tak pernah minder dengan prestasi
mereka justru aku selalu belajar.ya ini seklumit kisahku, ringkasan dari awal
hingga sekarang.
27 Juli 2016
Agus Arie Suwandi
Di meja besar rumah bang Az
Setia budi
Komentar
Posting Komentar