MEREKA MENEGUR HIDUPKU
Pegi
menjelang siang kemarin, aku dan 2 teman GMB diajak main ke yayasan sayap ibu
olehsalah satu teman dari GMB Jogja. Ozil salah satu teman GMB Jogja meminta
saya dan angga membantu menyerahkan hadiah kiriman dari GMB Jepang, itu juga
pertama kali aku datang kesana. Aku tak pernah membayangkan apapun selama
perjalanan, meski Ozil memberikan gambaran itu. sampai di yayasan sayap ibu
kami disamput oleh salah satu anak yang bernama intan, tingkah usilnya
membuataku ketawa. Dia terlihat sedang
sedang senang karena saat itu sedang ada ulang tahun salah satu club motor yang
dirayakan di tempat itu. setelah intan menyambut kami, beberapa anak juga
mendekati kami. Mengajak ngobrol dan menyapa ala mereka. Saya begitu terkejut
bisa bertemu mereka, benar-benar gak bisa berkata apapun. Meski di tempatku ada
orang diffabel seperti mereka, tapi kondisinnya begitu berbeda. Aku bak ada di
pantai asuhan, hampir semua mereka gak tau asal dan dimana dilahirkan. Ada
beberapa memang yang dititipkan tapi banyak yang tak memiliki orang tua.
Kami
melakukan tujuan awal kami dulu, yaitu menyerahkan hadia dari teman-teman GMB
Jepang ke pihak yayasan, setelah itu kami keliling yang dipandu oleh 2 orang
anak yayasan sayap ibu yang kondisinya sudah pulih. Bangsal demi bangsal kami
lewati dan menyapa petugas di setiap bangsal. Tiba saya di bangsal yang
terakhir, bangsal itu diisi lumayan banyak. Tapi saat itu saya bertemu dengan 2
orang anak dan 1 petugas jaga. Karena yang lain sedang mengikuti acara didepan,
anya 2 anak itu ang tersisa. Kondisi mereka berbeda dengan yang lain, satu anak
matanya, tangannya diikta dan terlihat matanya memar,dia juga bergerak gak
tentu arah dan bicara gak jelas. Petugas bercerita anak tersebut terkena
sindrom hyperactive, kalau kumat dia bakal memukuli diri sendiri, petugas hanya
akan melepas ikatan saat dia dimandikan dan tidur. Satu anak kecil yang
kira-kira usianya 1-sampai 3 tahun, anak terbut hanya bisa tidur dan membuka
sedikit matanya namun kembali lagi tidur. Kata petugasnya, dia terkena sindrom
yang membuat otaknya lumpuh. Dia tak bisa melakukan apapun kecuali tidur, saat
makan petugas membantunya memasukkan makanan sedikit demi sedikit.
Sesekali
mata saya keliling melihat 2 anak itu, beberapa kali 2 orang anak yang
mengantar kami mengelus kepala si anak kecil tersebut dan menjalankan kursi
dorong yang anak itu pakai. Saya juga berrtanya kepada petugas tentang
kesempatn atau peluang sembuh bagi 2 anak tadi, kata petugas mereka gak bisa disembuhkan.
Kalau anak yang hyperactive mungkin bisa kondisinya baik sampai 30 persen tapi
kalau sembu sudah tidak bisa, bagitu juga anak yang terkena lumpuh otak. Anak
itu sudah tidak bisa apa2, patugas hanya bisa terus berusaha. Merawat mereka
semaksimal mereka, memanusiakan mereka. Sejenak aku melupakan kondisi mereka
berdua, kami melanjutkan mengobrol dengan anak-anak yang sedang senang-senang
didepan. Satu persatu mereka curhat soal kondisi mereka, tapi bukan kondisi
fisik mereka yg berbeda dengan yang lain. Namun karena capek dan semua hal yang
mereka alami, tiba waktu makan bagi mereka. Intan yang dari tadi cari perhatian
ke anak-anak motor dan tdak mau makan didatangi 2 temannya. Satu duduk di kursi
roda dan satu lagi yang mendorong. Intan pun bergegas pergi dan kembali kami
bercerita bersama anak-anak yang masih ada dikursi depan kantor yayasan. Mereka
gak mau pergi makan karena jika mereka tinggal makan, pasti mereka kami akan
pergi meninggalkan mereka.



Mereka
begitu senang walau dengan orang baru, kami pamit pulang bercerita kembali soal
2 anak yang berada di bangsal terakhir, 2 teman saya bercerita dan saya hanya
bisa merenungkan. Betul semua kata teman-teman saya. mereka para petugas
yayasan sayap ibu bagi kami sangat hebat, bagaimana bisa mereka merawat anak
yang seolah tak punya harapan hidup, kami tersentuh denga mereka semua.
Kata-kata petugas yang akan merawat sampai akhir walau gak ada harapan mereka
sembuh, 10% pun itu hanya kemungkinan namun mereka tetap merawat kumungkinan
dari Tuhan, saya hanya bisa menahan tangis dan ketawa. Saya merasa ditampar
begitu keras oleh kehidupan para petugas dan anak-anak di yayasan terbut.
Mereka tidak menyererah dan tidak malu walau kondisi mereka berbeda dengan anak
yang lain, sedang petugasnya yang tulus memberikan perhatian. Saya gak tahu
siapa yang gaji mereka tapi data yang kami dapat adalah mereka digaji
seikhlashnya dan lebih banyak kerja sukarela. Saya merasa harus menata ulang
semangat dan motivasi hidup saya, mereka benar-benar inspiring. Semoga ini juga
bisa menginspirasi kita semua,terima kasih.
““Keceriaan
dan kebahagiaan itu bukan soal uang namun soal bagaimana kita bisa tersenyum
dengan siapapun yang kita temui salah satunya dengan kaum diffabel.”
Agus Arie S.
Semarang, may, 9th 2016


Great story pak..👍 semoga dg cerita ini bs membuat bnyk org tergugah utk senantiasa peduli dg oranglain dan bs melakukan hal yg bermanfaat utk mereka #minimal d mulai dr hal terkecil kpd org terdekat..😃
BalasHapusGreat story pak..👍 semoga dg cerita ini bs membuat bnyk org tergugah utk senantiasa peduli dg oranglain dan bs melakukan hal yg bermanfaat utk mereka #minimal d mulai dr hal terkecil kpd org terdekat..😃
BalasHapusterima kasih masyitoh :D sukses selalu buat u :D
Hapus